Wirawan Trunodipo

Just Another Words for Press

PEDULI TERHADAP MUTU KERJA

Posted by Teddy Wirawan Trunodipo pada November 3, 2009

Untuk mengembangkan bisnis menjadi semakin maju maka seorang wirausaha harus memiliki sikap peduli terhadap mutu kerja. Mari kita dipahami bahwa ada tiga tipe kepemimpinan yang bersikap mempengaruhi menyimpangnya mutu kerja akibat sikap toleransi yang dimiliki. Sikap-sikap tersebut adalah,

YANG PERTAMA, Pimpinan yang  sangat mudah memberikan toleransi terhadap mutu kerja yang dihasilkan oleh karyawan di perusahaannya. Hal ini sangat merusak komitmen terhadap mutu yang telah disepakati dan dijalan di perusahaan. Akibat dari tindakan toleransi ini yang dilakukan terus menerus oleh pimpinan maupun para pekerja dalam perusahaan adalah akan terjadi pergeseran cara pandang terhadap mutu, kinerja, dan budaya kerja dalam perusahaan tersebut.

Melihat hal tersebut sikap yang harus diperbuat adalah dengan melakukan kebijakan tidak ada tawar menawar tentang toleransi mutu kerja. Tindakan ini sangat beralasan karena sekali saja memberikan sikap toleransi maka di situ awal dari penyimpangan standar mutu yang telah dibuat. Contoh sikap yang harus dilakukan adalah ketika kondisi fisik dan mental semua karyawan dalam keadaan baik, fasilitas kerja sudah cukup memadai, manajemen kompensasi sangat layak, dan pelatihan kerja kerap diadakan untuk mendukung kinerja karyawan. Bila dalam kinerja karyawan terjadi mutu kerja yang rendah dan berulang-ulang maka karyawan bersangkutan siap menerima sanksi dari perusahaan berupa demosi, mutasi atau bahkan dikeluarkan.

Untuk fenomena penyimpangan mutu kerja karena sikap mudahnya memberikan toleransi adalah penegasan kepada setiap pimpinan untuk lebih perhatian yang besar pada standar mutu dan konsisten pada unsur kendali mutu SDM karyawan. Bentuk perhatian tersebut adalah model penghargaan yang sepadan, pendekatan partisipatif, menegaskan budaya kerja perusahaan melaui nilai dasar, peraturan, standar mutu, dan sanksi sebaiknya diterapkan agar karyawan termotivasi untuk meningkatkan mutu kerjanya.

YANG KEDUA, Pimpinan yang memiliki standar mutu rendah. Sikap ini dilakukan oleh pimpinan yang memberikan toleransi terhadap karyawan bermutu rendah karena alasan yang tidak mau direpotkan atau ingin cepat selesai. Pimpinan tersebut akan merasa terganggu oleh ulah karyawan yang bermutu kerja rendah kalau syarat-syarat pemenuhan mutu kerja yang sesuai dengan standar perusahaan harus terpenuhi. Jadi pimpinan berpendapat mengapa karyawan yang harus disalahkan bahkan diberi sanksi manakala jumlah dan unsur-unsur pendukung mutu tidak cukup.

Untuk fenomena  di atas maka bentuk perbaikan mutu kerja karyawan relatif lebih mudah. Ada asumsi bahwa mutu SDM karyawan sudah bagus maka perusahaan tinggal menyediakan fasilitas kerja yang standar, melengkapi unsur pendukung mutu yang belum ada, manajemen kompensasi yang kompetitif, dan pengembangan SDM sejalan dengan perbaikan teknologi dan fasilitas kerja.

YANG KETIGA, Pimpinan yang sepertinya tidak peduli tentang faktor-faktor standar mutu yang mempengaruhi kinerja karyawan. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang sudah tahu standar mutu dan kinerja di perusahaan yang dia kelola tetapi tidak peduli terhadap keberhasilan dari standar mutu dan kinerja yang harus dihasilkan. Hal ini terjadi karena ketidakpuasan pimpinan terhadap kebijakan mutu yang telah disepakati atau ketidakpuasan terhadap pimpinan mereka.

Menanggapi fenomena di atas pendekatan yang harus dilakukan adalah mengupas sumber masalah satu demi satu yang dipandang relatif lebih kompleks. Mengapa demikian? Karena yang menjadi sasaran utama perbaikan mutu kerja tidak saja karyawan tetapi juga pimpinan yang mengelola perusahaan tersebut. Pemahaman yang harus diberikan adalah pimpinan harus bersikap satria dan wibawa ketika harus menerima kebijakan muu yang telah disepakati dan tegas menjalankan dengan segala resiko yang dihadapi. Selain itu harus luwes terhadap pelaksanaan mutu terhadap kinerja karyawan selama masih dalam batasan standar mutu yang telah dibuat dan proporsional dalam mewujudkan toleransi. Untuk mempermudah dalam kinerja maka perusahaan harus menetapkan standar baku tentang mutu  dan  batas-batas toleransi yang bisa diterima dalam hal mutu kerja karyawan

Dalam rangka menetapkan standar baku tentang mutu  dan  batas-batas toleransi yang bisa diterima dalam hal mutu kerja karyawan oleh perusahaan maka perlu dibentuk komisi mutu. Pembentukan komisi mutu organisasi ini memiliki tugas sebagai berikut,

  1. Membantu Pimpinan memikirkan dan merancang hal-hal yang perlu diperbaiki dan merekomendasi standar mutu yang dapat diterapkan dalam mencapai kinerja yang baik bagi perusahaan.
  2. komisi mutu terdiri dari orang-orang yang berpengalaman dalam bidang mutu dan standar kinerja perusahaan, masih memiliki waktu dan kepedulian pada  mutu perusahaan.
  3. Mencari, melengkapi, dan membuat berbagai data, informasi, prodedur, formulir, jadwal pelatihan dan audit yang berkaitan dengan mutu kinerja perusahaan.
  4. Merekomendasikan atas prioritas perbaikan mutu yang harus segera dikerjakan.
  5. Merekomendasikan kepada pimpinan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk perbaikan mutu dan kinerja perusahaan.

Bentuk komitmen dari karyawan bisa diujudkan dengan beberapa hal seperti tercantum di bawah ini,

  1. Komitmen dalam mencapai visi,misi, dan tujuan organisasi.
  2. Komitmen dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja dan standar mutu organisasi.
  3. Komitmen dalam mengembangkan mutu sumberdaya manusia dan mutu produk perusahaan.
  4. Komitmen dalam mengembangkan kebersamaan tim kerja secara efektif dan efisien.
  5. Komitmen untuk berdedikasi pada organisasi secara kritis, skeptis dan rasional.

Whitmore (1996) mengemukakan bahwa tanggung jawab dan partisipasi yang menyeluruh dapat dianggap sebagai kadar yang menunjukkan sejauh mana komitmen organisasi dalam diri karyawan secara keseluruhan merupakan bagian penting dalam kehidupannya. Perilaku produktif merupakan konsekuensi dari adanya suatu tanggung jawab dari karyawan untuk mencapai kinerja yang tinggi melalui cara-cara kerja yang efektif dan efisien (Hartijasti, 2002). Hal ini menjadikan karyawan mau mengerahkan tenaga, pikiran, dan potensinya serta berpartisipasi secara penuh untuk mencapai tujuan organisasi (Janssen, et. al, 1998).

Dirangkum oleh Teddy Wirawan Trunodipo dari  http://indosdm.com http://natlovndy-blogtia.blogspot.com http://psikomedia.com http://rumahbelajarpsikologi.com http://warnadunia.com http://www.institutmahardika.com sebagai bahan mengajar KEWIRAUSAHAAN

DOWNLOAD MATERI

3 Tanggapan to “PEDULI TERHADAP MUTU KERJA”

  1. cimuu said

    Waaaah byk skali pak artikelnya? Jd pusing. Hehe

  2. cimuu said

    Waaaah byk skali pak artikelnya? . . Keren

  3. nice artikel…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: