Wirawan Trunodipo

Just Another Words for Press

CUPANG MENGUNDANG MASALAH

Posted by Teddy Wirawan Trunodipo pada Februari 19, 2009

DOWNLOAD MATERI

Teman-teman yang suka cupang atau mencupang; ada cerita menarik tentang hal tersebut. Cerita diambil dari indoseru.blogspot.com dan dipublikasikan ulang oleh T. Wirawan Trunodipo dalam blog pribadi. Selamat membaca cerita tersebut.

Urusan cupang atau gigitan kemesraan, sebetulnya sepele, tapi bisa bikin berabe. Ini terjadi ketika produk itu bukan dari pihak berwenang. Lihat nasib Ny. Ismah, 41 tahun, dari Depok. Gara-gara cupang tersembunyi dalam perut, rumahtangganya terancam bubar. Pasalnya, itu bukan hasil kerja suami sendiri, melainkan ulah Kodri, 45 tahun, tetangganya. Tukang sate yang kecolongan itu terpaksa mengadu ke Polres Depok.

Dosa-dosa rumahtangga itu dirintis Ismah ketika suaminya, Dasman, 46 tahun, semakin sibuk dengan meat busines-nya. Bukan dagang daging di pasar swalayan atau departemen store, melainkan jadi tukang sate kambing di Stasiun Depok. Berangkat sore pukul 16.00, pulang-pulang pagi subuh. Setibanya di rumah Dasman langsung bleg tidur, lupa sama anak dan bini. Begitu selalu alur kehidupannya belakangan ini.

Akibat gaya hidup Dasman yang demikian, ternyata berdampak pada istrinya. Ny. Ismah jadi sering kesepian di tengah malam. Soalnya ketika dia sedang membutuhakn kehangatan dari suami, Dasman-nya malah tidak ada. Kalau pun suami memberikan juga, itu terjadi pagi subuh ketika Ismah sedang tidur. Jadinya tak mood, karena dia selalu dibrengkal (dibalik paksa) dari mimpi indahnya.

Hari-hari sepi Ismah ternyata tercium oleh Kodri, tetangga sendiri di daerah Kemiri. Lelaki ini memang petualang asmara. Saking pakarnya dalam bidang perselingkuhan, dia selalu bisa membaca gerak dan langkah wanita. Mana yang bisa digoda, mana yang jinak merpati tapi akhirnya nelur sendiri, dia tahu persis. Sepertimya Kodri memang memiki jimat penakluk wanita seperti Semar Mesem atau Jaran Guyang.

Begitu pula ketika menghadapi Ny. Ismah tetangganya. Sekali lihat dia segera tahu bahwa istri tukang sate itu mendambakan tusukan mengasyikkan, bukan tusukan sate yang kadang bikin stroke. Kebetulan bini Kodri sendiri sedang pulang kampung ke Ciamis, maka peluang emas itu akan segera dimanfaatkan. “Soal beginian mah, nggak ada matinye…., begitu kata Kodri bersombong diri.

Anak-anak Ismah kala itu sudah tidur, maka Kodri pun segera marangsek. Pukul 22.00 sebetulnya bukan waktu bertamu. Tapi berkat rekayasa alasan yang dikemas rapi, Ny. Ismah pun bersedia menerima Kodri. Keduanya pun lalu asyik ngobrol ngalor ngidul, sehingga akhirnya menjurus pada hil-hil yang mustahal. Di antaranya, ketika ada peluang tangan Kodri pun mulai nakal. Ironisnya, Ismah hanya menepis dengan lembut.

Lelaki model Kodri langsung segera tahu. Ibarat pilot pesawat, itu berarti isyarat menara bahwa landasan sudah siap didarati. Maka lelaki pecundang itu mulai menurunkan ketinggiannya, lampu kabin dimatikan sementara roda dikeluarkan pelan-pelan. Ismah pun lalu digelandang ke kamar. Bila dalam pesawat sabuk pengaman harus dikenakan, “pendaratan” model Kodri justru nggak pakai sabuk, nggak pakai apa-apa!

Ismah memang sedang kesepian, sehingga taka ada penolakan ketika tetangga itu berbuat di luar kepatutan. Soalnya, ibarat orang ngantuk, tahu-tahu disorong bantal. Orang sedang kangen sate kambing, dikirimi daging kurban. Maka dia pun akhirnya melayani Kodri dengan gegap gempita, meski perilaku ranjang Kodri suka aneh-aneh bin nyleneh. “Sampai pendaratan berikutnya ya yank,” kata Kodri ketika pulang, sok mesra.

Ketika subuh tiba, Dasman pulang dari jualan sate. Meski ngantuk-ngantuk, dia tak lupa dengan acara “sunah rosul”-nya. Ismah pun melayani ogah-ogahan. Tapi ketika melihat cupang di perut bininya, dia jadi kaget dan mencoba klarifikasi. Ismah sebetulnya kaget juga, tapi dengan cepat dia menemukan alasan: tadi aku habis kerokan. Dasman hilang curiganya, dan tugas mulia itu diselesaikan dengan seksama.

Malam berikutnya, usai jualan sate kembali Dasman bermaksud mengambil “jatah”. Namun lagi-lagi dia kaget, karena cupang di perut istrinya makin banyak saja. Dia dibakar curiga dan menuduh bininya telah berselingkuh. Tapi Ismah tak mengaku. Dasman pun kehilangan selera. Ibarat pesawat, tukang sate itu tak jadi mendarat. Roda-roda dimasukkan dan dia kembali ke bandara asal.

Akibat kecurigaan belum terjawab, sengaja Dasman pulang lebih awal. Sekitar pukul 23.00 dia sudah tiba dari jualan sate. Kecurigaannya ternyata terbukti. Di kamar dia melihat istrinya sedang ditindih lelaki tetangganya. Ismah segera dihajar. Sedangkan Kodri yang hendak kabur, babak belur pula dikeroyok tetangga sendiri. Malam itu juga skandal ini dilaporkan ke Polres Depok.

Hati-hati Kodri, “cupang” di kantor polisi bisa menyakitkan, lho!

DOWNLOAD MATERI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: